Thursday, February 9, 2012

Menikmati Sunset di Pantai Losari

|0 comments
Pantai Losari berada ditempat jantung kota Makasar yaitu di Jalan Penghibur, yang terletak di sebelah barat kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pantai Losari pada sore hari menjadi tempat terpadat untuk kawasan pantai yang dekat juga dengan Trans Studio di Makassar. Tua, muda, dan anak-anak menikmati sore hari dengan aktivitas masing-masing. Selagi mampir di Kota Makassar, saya menyempatkan untuk mampir sebentar di Pantai Losari yang tersohor itu. Sesampainya di sana, sudah cukup sore. Suasananya sudah ramai, saya ikut berbaur di pinggir Pantai Losari. Banyak anak muda yang bermain air dan berenang. Menurut saya, sunset di Pantai Losari menjelang sore itu indah. Keistimewaan Pantai Losari memiliki keunikan dan keistimewaan yang sangat mempesona. Salah satu keunikannya adalah para pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama. Keistimewaan obyek wisata ini adalah para pengunjung dapat menikmati indahnya deburan ombak yang memecah tanggul pantai dan kesejukan “angingmamiri” yang bertiup sepoi-sepoi, sambil menyaksikan detik-detik terbenamnya matahari secara utuh di balik cakrawala, yaitu mulai dari perubahan warna hingga pergeseran posisinya sampai benar-benar hilang dari pandangan. Para pengunjung juga dapat menikmati berbagai macam makanan laut yang masih segar. Di sebelah selatan anjungan Pantai Losari, terdapat sebuah kafe dan restoran terapung yang menggunakan kapal tradisional Bugis-Makassar “Phinisi” dengan menu bervariasi, seperti masakan ikan pari, cumi-cumi dan lobster dengan harga berkisar antara Rp 7.500,- hingga Rp 25.000,- per porsi. Di samping itu, para pengungjung dapat mencicipi berbagai jenis makanan khas Kota Makassar, seperti pisang epek, pallu butung, pisang ijo, coto Makassar, sop konro, dan lain-lain. Keistimewaan lainnya adalah para pengunjung dapat mengakses internet secara gratis melalui hot spot di sepanjang Pantai Losari.

Kisah Seorang Ibu yang Membenci Bayinya

|0 comments
Jakarta - Selama ini yang orang percaya adalah kedekatan atau perasaan cinta antara ibu dengan bayinya bisa tumbuh dalam sekejap. Petuah yang kerap didapat adalah cinta tersebut akan tumbuh seiring dengan keberadaan janin di rahim ibu. Hingga akhirnya ibu dan anak punya ikatan yang kuat selamanya. Namun bagaimana jika hal itu tidak dialami ibu? Apakah si ibu bersalah atas hal itu? Perasaan bersalah itu dialami Ruth Hagin, seorang ibu asal Inggris yang memiliki bayi bernama Sandra. Ruth mengaku dia selalu merasa marah dan benci setiap melihat Sandra. "Saat Sandra menangis, aku merasa malu untuk menenangkannya," ujarnya. "Aku sering membayangkan bagaimana menyingkirkannya. Aku sebenarnya enggan mengungkapkan hal ini, tapi aku memang merasa hidupku akan jauh lebih baik kalau dia tidak ada di sini," tuturnya lagi. Tentu pengakuan Ruth tersebut sangat mengejutkan. Tidak banyak ibu yang dengan berani mengungkapkan kebenciannya pada bayinya yang baru lahir. Kalaupun memang ada, mereka akan langsung mendapat stigma ibu yang jahat. "Saat teman dan keluargaku mengatakan, betapa cantiknya dia, aku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana mungkin aku mengakui kalau aku sebenarna membenci bayi sempurna ini? Aku merasa seperti monster, ibu terburuk di dunia," kisahnya.
Ruth bercerita lagi soal betapa dia sering menghabiskan malam-malamnya dengan memandangi bayinya yang tengah tidur. Saat itu dia kerap berpikir, betapa hidupnya akan jauh lebih baik kalau putrinya tersebut tidak ada. "Satu-satunya aku merasa dekat dengannya ketika aku menyusui," ungkap wanita 34 tahun itu. Lama kelamaan Ruth merasa lelah dan mati rasa. Dia terus menunggu perasaan cinta, yang kata orang pasti akan dirasakannya pada anaknya. "Tapi itu tidak pernah datang," tukasnya. Ruth bukan satu-satunya yang mengalami hal di atas. Penelitian menunjukkan satu dari lima ibu gagal merasakan ikatan dengan bayi yang baru dilahirkannya. Namun karena malu, hanya sedikit dari mereka yang mau mengakui hal tersebut. "Ikatan ini memang sangat penting untuk perkembangan emosional dan psikologis bayi. Dan memang ada pandangan umum bahwa kedekatan ibu dengan bayi barunya bisa terjadi secara instan," jelas psikolog anak Dr. Richard Woolfson yang juga menulis buku 'How To Have A Happy Child', seperti dikutip dari Daily Mail. Dalam banyak kasus, ibu memang bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat bayinya. Tapi untuk sejumlah ibu lainnya, perasaan cinta itu butuh waktu, bisa beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan tahun. Ruth yang bekerja sebagai manajer di sebuah organisasi amal akhirnya bisa merasakan cinta pada putrinya. Ia butuh dua tahun hingga akhirnya merasakan ikatan dengan Sandra. Ruth sebenarnya bukanlah tipe orang yang membenci anak-anak. Sejak masih remaja, kemudian tunangan dan menikah, dia sangat ingin punya anak. "Aku ingin menjadi ibu terbaik, tapi aku masih sangat muda dan tidak berpengalaman," ujarnya. "Aku tipe yang perfeksionis, hingga sekarang. Jadi aku mulai merasa marah ketika bayi tersebut menggagu hidupku yang teratur. Aku sedih kehilangan kehidupanku sebelumnya, kebebasanku dan suamiku yang kami nikmati bersama," tuturnya lagi panjang lebar menjelaskan penyebab kenapa dia jadi membenci bayinya saat baru melahirkan. Setelah Sandra lahir, hubungan Ruth dengan suaminya memang memburuk. Mereka jadi sering bertengkar hingga akhirnya bercerai setelah tiga tahun menikah. Titik balik Ruth terjadi ketika Sandra hampir berusia dua tahun. Saat itu, Sandra sedang bersama suaminya dan dia pergi berbelanja. Dia kemudian terpikir untuk meninggalkan mereka. "Pada titik itu, sesuatu muncul di kepalaku. Ini tidak benar. Aku wanita pintar, rasional, jadi kenapa aku ingin meninggalkan anakku," cerita Ruth. Kasus yang dialami Ruth juga dirasakan aktris Gwyneth Paltrow setelah melahirkan anak keduanya, Moses. Meski tidak sampai membenci anaknya yang kini berusia lima tahun itu, Gwyneth sempat tidak memiliki perasaan apapun pada sang putra. "Aku sama sekali tidak merasakan apapun, aku tidak merasa adanya ikatan dan saat aku melihat fotonya ketika dia berusia tiga bulan, aku tidak ingat saat itu," kisahnya. Psikolog Dr Sharon Lewis menjelaskan apa yang dialami Ruth dan Gwyneth itu dapat terjadi pada wanita manapun. 10-15 dari 100 wanita bisa mengalami depresi pasca melahirkan. Mereka semua mungkin saja sampai pada satu titik berharap bayinya tidak dilahirkan. "Kelahiran anak pertama memang bisa membuat shock. Tidak ada ibu yang menyiapkan diri untuk merawat anak tak kenal waktu. Ditambah lagi ada terlalu banyak ekspektasi tidak realistis tentang menjadi orangtua," jelasnya. Menurut Dr Sharon lagi, saat menjadi orangtua di usia muda, bisa mempengaruhi emosi ibu. Apalagi ditambah dengan kurang tidur dan berbagai perubahan hormonal serta fisik yang dialami setelah bayi lahir. "Semua faktor ini berdampak pada kapasitas ibu untuk mencintai bayinya," tutur psikolog asal California itu. Ibu juga bisa melampiaskan kemarahan mereka pada suami ke bayinya. Sementara bayi sangat perlu diperhatikan, sehingga emosi pun bisa bertambah. Namun dalam pandangan Dr Sharon, depresi pasca melahirkan ini bukan satu-satunya faktor yang membuat ibu tidak bisa merasakan ikatan dengan bayinya. Tapi masalah tersebut juga tidak akan selamanya terjadi pada ibu. "Hubungan dengan anak bisa berkembang seiring berjalannya waktu. Kesulitan bonding dengan anak juga tidak memprediksikan bagaimana hubungan ibu dan anak di masa depan," tandasnya.